Jakarta, 30 Juli 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi fenomena El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dan lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia. El Nino saat ini telah aktif dan pengaruhnya terhadap pola curah hujan menjadi perhatian karena sebagian besar wilayah Indonesia tengah memasuki periode kemarau. BMKG meminta pemerintah daerah, masyarakat, serta sektor yang bergantung pada ketersediaan air meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan berkurangnya curah hujan. Dampaknya dapat berbeda antarwilayah karena kondisi iklim Indonesia juga dipengaruhi faktor atmosfer dan geografis lainnya.
BMKG memperkirakan perkembangan El Nino memiliki peluang mencapai intensitas kuat, meskipun tingkat kekuatan fenomena tersebut dapat berubah mengikuti dinamika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuator bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dibandingkan kondisi normal. Perubahan tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer dan dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Dampak yang dirasakan tidak selalu sama pada setiap daerah maupun setiap periode. Karena itu, perkembangan indikator iklim perlu terus dipantau untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya terhadap musim di Indonesia.
Puncak musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September, sehingga periode tersebut menjadi salah satu fase yang perlu mendapat perhatian. Kondisi kering dapat meningkatkan kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian, peternakan, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Daerah yang mengandalkan sumber air dengan kapasitas terbatas berpotensi mengalami tekanan lebih besar apabila hujan berkurang dalam waktu panjang. Pemerintah daerah perlu memantau kondisi waduk, embung, sungai, sumur, serta sumber air baku lainnya secara berkala. Pengelolaan cadangan sejak awal dapat membantu mengurangi risiko kekurangan air ketika kemarau mencapai puncaknya.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling sensitif terhadap perubahan pola hujan. Petani membutuhkan informasi mengenai prakiraan musim untuk menentukan jadwal tanam, pemilihan komoditas, dan kebutuhan pengairan. Apabila periode kering berlangsung lebih panjang, tanaman yang membutuhkan banyak air dapat menghadapi risiko penurunan produktivitas ketika irigasi tidak mencukupi. Penyesuaian kalender tanam dan penggunaan varietas yang sesuai kondisi lokal dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi. Ketersediaan pompa dan pengelolaan jaringan irigasi juga semakin penting di wilayah yang memiliki risiko kekeringan tinggi.
Ancaman kebakaran hutan dan lahan turut meningkat ketika vegetasi serta lapisan tanah kehilangan kelembapan. Wilayah yang memiliki lahan gambut membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi karena kondisi kering dapat membuat api lebih mudah berkembang dan sulit dipadamkan apabila mencapai lapisan bawah permukaan. Pencegahan perlu dilakukan sebelum muncul kebakaran dalam skala luas, termasuk melalui pemantauan titik panas, patroli, dan pengelolaan sumber air untuk pemadaman. Aktivitas pembakaran terbuka juga perlu dicegah selama periode berisiko tinggi. Penanganan sejak titik api masih kecil jauh lebih efektif dibandingkan pemadaman setelah kebakaran meluas.
Meski El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027, pengaruhnya terhadap kondisi Indonesia tidak berarti seluruh wilayah akan terus mengalami kemarau sampai periode tersebut. Musim hujan diperkirakan mulai berkembang dan meluas di Indonesia menjelang akhir 2026, dengan dampak El Nino terhadap sebagian wilayah mulai berkurang seiring perubahan pola musim. Indonesia memiliki karakter iklim yang kompleks sehingga satu fenomena global tidak menjadi satu-satunya penentu kondisi hujan. Suatu daerah masih dapat mengalami hujan meskipun El Nino berlangsung. Informasi prakiraan wilayah karena itu lebih relevan untuk menentukan langkah antisipasi dibandingkan menganggap seluruh Indonesia akan mengalami kondisi kering secara seragam.
Kesiapan menghadapi El Nino juga perlu menyentuh pengelolaan air di kawasan perkotaan. Periode tanpa hujan yang panjang dapat meningkatkan kebutuhan air sekaligus memengaruhi kondisi lingkungan dan kualitas udara. Pemerintah dapat memperkuat konservasi air, menjaga daerah tangkapan, mengoptimalkan tampungan, serta mengurangi kehilangan air dalam jaringan distribusi. Masyarakat dapat berkontribusi dengan menggunakan air secara lebih efisien dan memanfaatkan penampungan air hujan ketika kondisi memungkinkan. Langkah sederhana yang dilakukan sejak sebelum puncak kemarau dapat membantu menjaga cadangan untuk menghadapi periode lebih kering.
Prediksi El Nino hingga awal kuartal pertama 2027 menjadi peringatan agar dampak musim kering dikelola sejak dini, bukan setelah kekeringan atau kebakaran terjadi. Pemantauan cuaca dan iklim, pengamanan sumber air, penyesuaian pertanian, serta kesiapsiagaan menghadapi kebakaran perlu berjalan secara bersamaan. Kondisi juga harus terus dievaluasi karena perkembangan El Nino dapat berubah dalam beberapa bulan mendatang. Bagi masyarakat, informasi prakiraan dapat digunakan untuk menyesuaikan aktivitas dan penggunaan air sesuai kondisi daerah masing-masing. Dengan kesiapan lebih awal, dampak El Nino terhadap kehidupan masyarakat, produksi pangan, dan lingkungan dapat ditekan selama periode kemarau 2026 hingga memasuki 2027.