Jakarta, 18 Oktober 2026 – Usulan perubahan skema bagi hasil antara pengemudi ojek online (ojol) dan perusahaan aplikator menjadi 92:8 mendapat perhatian karena dinilai berpotensi menimbulkan sejumlah risiko bagi industri transportasi daring. Dalam skema tersebut, pengemudi memperoleh 92 persen dari nilai transaksi yang menjadi dasar pembagian, sedangkan perusahaan aplikator mendapatkan delapan persen. Usulan ini muncul di tengah pembahasan mengenai kesejahteraan mitra pengemudi dan besaran potongan aplikasi. Meskipun bertujuan meningkatkan pendapatan pengemudi, perubahan pembagian hasil dinilai perlu mempertimbangkan kondisi operasional perusahaan. Keseimbangan antara perlindungan mitra dan keberlanjutan layanan menjadi persoalan utama dalam pembahasan kebijakan tersebut.
Skema bagi hasil 92:8 dipandang dapat memberikan keuntungan langsung kepada pengemudi karena porsi pendapatan yang diterima menjadi lebih besar. Dengan potongan aplikasi yang lebih rendah, pengemudi berpotensi membawa pulang pendapatan lebih tinggi dari setiap perjalanan yang diselesaikan. Namun, manfaat tersebut belum tentu memberikan dampak yang sama bagi seluruh pengemudi. Besarnya penghasilan tetap dipengaruhi jumlah pesanan, tarif perjalanan, biaya bahan bakar, dan pengeluaran operasional kendaraan. Selain itu, perubahan kebijakan pembagian hasil juga dapat memengaruhi strategi bisnis perusahaan aplikator. Oleh karena itu, perhitungan dampak ekonomi perlu dilakukan secara menyeluruh sebelum skema baru diterapkan.
Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah berkurangnya kemampuan perusahaan aplikator dalam membiayai kegiatan operasional. Perusahaan transportasi daring membutuhkan dana untuk mengembangkan teknologi, memelihara sistem aplikasi, menyediakan layanan pelanggan, serta menjaga keamanan transaksi. Selain itu, terdapat kebutuhan biaya untuk pengelolaan data, penanganan keluhan, dan pengembangan fitur keselamatan. Apabila pendapatan perusahaan dari setiap transaksi berkurang secara signifikan, ruang pembiayaan berbagai kebutuhan tersebut juga berpotensi menyempit. Kondisi ini dapat mendorong perusahaan melakukan penyesuaian terhadap pengeluaran dan strategi layanan. Dampaknya perlu diperhitungkan agar perubahan pembagian hasil tidak justru mengurangi kualitas layanan yang diterima masyarakat.
Risiko lainnya berkaitan dengan kemungkinan perubahan kebijakan promosi dan insentif bagi pengemudi maupun pelanggan. Selama ini, sejumlah perusahaan aplikator menggunakan program promosi untuk mempertahankan pelanggan dan meningkatkan jumlah transaksi. Program insentif juga dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga ketersediaan pengemudi pada waktu dan wilayah tertentu. Apabila kemampuan pendanaan perusahaan menurun, besaran atau cakupan program tersebut berpotensi mengalami penyesuaian. Pengurangan promosi dapat memengaruhi minat konsumen dalam menggunakan layanan transportasi daring. Sementara itu, perubahan insentif dapat berdampak terhadap pendapatan pengemudi, terutama mereka yang selama ini mengandalkan tambahan penghasilan dari program tertentu.
Penerapan skema 92:8 juga dinilai perlu mempertimbangkan kemungkinan dampaknya terhadap tarif yang dibayarkan konsumen. Perusahaan aplikator dapat menghadapi tekanan untuk mencari sumber pendapatan lain apabila bagian yang diterima dari setiap transaksi semakin kecil. Salah satu kemungkinan penyesuaian adalah perubahan biaya layanan, meskipun keputusan tersebut tetap bergantung pada regulasi dan strategi masing-masing perusahaan. Jika biaya yang ditanggung pelanggan meningkat, permintaan terhadap layanan ojol berpotensi mengalami penurunan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi jumlah perjalanan yang diperoleh pengemudi dalam satu hari. Dengan demikian, peningkatan persentase bagi hasil tidak selalu menjamin kenaikan pendapatan bersih apabila volume pesanan ikut berubah.
Dari sisi pengemudi, pembahasan mengenai skema pembagian hasil tidak dapat dilepaskan dari persoalan biaya operasional yang terus menjadi perhatian. Pengemudi harus menanggung berbagai kebutuhan, seperti bahan bakar, perawatan kendaraan, pembelian perlengkapan kerja, dan biaya komunikasi. Mereka juga menghadapi risiko pendapatan yang berubah-ubah akibat perbedaan jumlah pesanan setiap hari. Karena itu, peningkatan kesejahteraan mitra membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada besaran potongan aplikasi. Kepastian tarif yang wajar, transparansi perhitungan pendapatan, serta perlindungan keselamatan kerja juga menjadi aspek penting. Kebijakan yang dirancang perlu mempertimbangkan kondisi nyata pengemudi agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Pemerintah memiliki peran penting dalam mencari titik keseimbangan antara kepentingan pengemudi, perusahaan aplikator, dan konsumen. Penyusunan kebijakan pembagian hasil perlu didukung kajian mengenai struktur biaya perusahaan serta kondisi pendapatan pengemudi di berbagai wilayah. Dialog dengan perwakilan mitra pengemudi dan pelaku industri juga diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai dampak perubahan aturan. Selain itu, transparansi mengenai komponen potongan aplikasi dapat membantu mengurangi perbedaan pemahaman antara para pihak. Pengawasan terhadap penerapan kebijakan menjadi penting agar ketentuan yang disepakati dapat dijalankan secara konsisten. Dengan pendekatan tersebut, perubahan regulasi diharapkan tidak menimbulkan persoalan baru bagi ekosistem transportasi daring.
Perdebatan mengenai usulan skema bagi hasil ojol 92:8 menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan pengemudi membutuhkan kebijakan yang mempertimbangkan berbagai aspek ekonomi. Porsi pendapatan yang lebih besar memang berpotensi memberikan manfaat langsung kepada mitra pengemudi, tetapi keberlanjutan operasional perusahaan tetap perlu diperhitungkan. Risiko terhadap insentif, promosi, tarif konsumen, dan jumlah pesanan menjadi sejumlah faktor yang harus dikaji sebelum keputusan diambil. Pemerintah bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat merumuskan aturan yang adil dan dapat diterapkan dalam jangka panjang. Kebijakan yang tepat perlu memastikan pengemudi memperoleh penghasilan layak tanpa mengabaikan keberlangsungan layanan. Dengan keseimbangan tersebut, industri transportasi daring diharapkan tetap mampu berkembang sekaligus memberikan manfaat bagi pengemudi dan masyarakat.