Jakarta, 17 Oktober 2026 – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Roro Esti Widya Putri menekankan pentingnya memperluas akses pembiayaan dan membuka peluang pasar internasional bagi perempuan pengusaha Indonesia. Menurutnya, dukungan terhadap pelaku usaha perempuan menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Perempuan memiliki peran strategis dalam mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama pada sektor perdagangan, industri kreatif, serta produk berbasis potensi lokal. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi agar usaha yang dikelola perempuan mampu berkembang secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan akses terhadap permodalan, pendampingan bisnis, dan jaringan pemasaran internasional menjadi perhatian penting dalam penguatan daya saing perempuan pengusaha.
Roro menilai perempuan pengusaha memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap peningkatan ekspor nasional apabila mendapatkan dukungan yang memadai. Berbagai produk yang dihasilkan pelaku usaha perempuan, mulai dari makanan olahan, fesyen, kerajinan tangan, hingga produk kecantikan, memiliki peluang untuk memasuki pasar global. Meski demikian, kemampuan menghasilkan produk berkualitas belum selalu diikuti dengan kemudahan memperoleh pembiayaan dan akses kepada pembeli internasional. Sebagian pelaku usaha masih menghadapi keterbatasan modal untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi permintaan dalam jumlah besar. Kondisi tersebut dapat menghambat perkembangan bisnis meskipun produk yang ditawarkan memiliki daya saing. Karena itu, diperlukan kerja sama berbagai pihak untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi perempuan dalam mengembangkan usaha.
Akses pembiayaan menjadi salah satu persoalan utama yang perlu mendapatkan perhatian dalam pemberdayaan perempuan pengusaha. Banyak pelaku UMKM membutuhkan tambahan modal untuk membeli bahan baku, meningkatkan kualitas kemasan, memperbarui peralatan produksi, dan memperluas jaringan distribusi. Namun, persyaratan administrasi, keterbatasan agunan, serta rendahnya literasi keuangan masih dapat menjadi kendala dalam memperoleh fasilitas pembiayaan formal. Roro mendorong penguatan ekosistem pembiayaan yang mampu menjangkau pelaku usaha perempuan sesuai dengan kebutuhan dan skala bisnis mereka. Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga perbankan, perusahaan pembiayaan, serta program pemberdayaan UMKM. Dengan akses modal yang lebih baik, perempuan pengusaha diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha.
Selain permodalan, perluasan akses pasar internasional menjadi aspek penting dalam meningkatkan kontribusi perempuan terhadap perdagangan nasional. Pelaku usaha perlu memahami standar kualitas, persyaratan sertifikasi, ketentuan ekspor, dan karakteristik konsumen di negara tujuan. Pengetahuan tersebut diperlukan agar produk Indonesia dapat bersaing dengan barang dari negara lain yang telah lebih dahulu memiliki jaringan distribusi global. Kementerian Perdagangan memiliki peran dalam memfasilitasi promosi produk, mempertemukan eksportir dengan calon pembeli, serta menyediakan informasi peluang perdagangan internasional. Pemanfaatan pameran dagang dan kegiatan penjajakan kerja sama bisnis juga dapat membantu perempuan pengusaha memperluas jejaring. Melalui dukungan yang terarah, produk UMKM berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas dan memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Transformasi digital turut menjadi peluang bagi perempuan pengusaha untuk memperluas jangkauan bisnis tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pemasaran konvensional. Perkembangan perdagangan elektronik memungkinkan produk lokal diperkenalkan kepada konsumen dari berbagai daerah bahkan negara lain. Namun, pemanfaatan teknologi membutuhkan keterampilan dalam pengelolaan toko digital, pemasaran daring, transaksi pembayaran, dan perlindungan data konsumen. Pelaku usaha juga perlu memahami strategi membangun merek agar produk yang ditawarkan memiliki identitas kuat di tengah persaingan pasar. Program pelatihan digital dan pendampingan usaha dapat membantu perempuan meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi perdagangan. Dengan penguasaan keterampilan tersebut, pelaku UMKM memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan bisnis secara efisien dan berkelanjutan.
Roro juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan organisasi pemberdayaan perempuan dalam membangun ekosistem perdagangan yang inklusif. Kerja sama lintas sektor diperlukan karena tantangan yang dihadapi perempuan pengusaha tidak hanya berkaitan dengan persoalan modal. Keterbatasan jaringan bisnis, akses informasi, kemampuan manajemen, serta kesempatan mengikuti kegiatan promosi juga dapat memengaruhi perkembangan usaha. Program pendampingan yang berkesinambungan dinilai lebih efektif dibandingkan bantuan yang hanya diberikan dalam jangka pendek. Melalui pendekatan tersebut, perempuan pengusaha dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan skala bisnis. Penguatan kapasitas usaha juga diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemberdayaan perempuan dalam sektor perdagangan memiliki dampak ekonomi yang lebih luas karena berkaitan dengan peningkatan pendapatan keluarga dan pengembangan ekonomi daerah. Usaha yang dikelola perempuan sering kali melibatkan tenaga kerja dari lingkungan sekitar serta memanfaatkan bahan baku lokal. Apabila usaha tersebut berkembang dan mampu menembus pasar ekspor, manfaat ekonomi berpotensi dirasakan oleh lebih banyak pihak dalam rantai produksi. Peningkatan permintaan produk juga dapat mendorong pertumbuhan sektor pendukung, seperti pengemasan, logistik, transportasi, dan layanan pemasaran. Oleh sebab itu, penguatan perempuan pengusaha tidak hanya menjadi agenda kesetaraan kesempatan ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi meningkatkan daya saing nasional. Pemerintah diharapkan terus mendorong kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam perdagangan internasional.
Ke depan, perluasan akses pembiayaan dan pasar global diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan jumlah perempuan pengusaha yang mampu bersaing di tingkat internasional. Kementerian Perdagangan perlu terus memperkuat program fasilitasi ekspor, peningkatan kapasitas usaha, serta penyediaan informasi perdagangan yang mudah dijangkau pelaku UMKM. Di sisi lain, perempuan pengusaha juga didorong meningkatkan inovasi, menjaga konsistensi kualitas produk, dan memanfaatkan peluang kerja sama bisnis secara aktif. Tantangan persaingan global membutuhkan kesiapan dalam memenuhi standar pasar sekaligus kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan konsumen. Dengan dukungan pembiayaan, pelatihan, dan jaringan perdagangan yang lebih luas, perempuan pengusaha Indonesia berpotensi menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekspor nasional. Langkah tersebut sekaligus diharapkan memperkuat pembangunan ekonomi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.