Jakarta, 7 Oktober 2026 –
Danantara Indonesia mengungkap rencana membawa sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Rencana tersebut menjadi bagian dari transformasi portofolio perusahaan negara sekaligus upaya membuka sumber pendanaan baru melalui pasar modal. CEO Danantara menegaskan tidak semua BUMN otomatis dapat masuk bursa karena setiap perusahaan harus memenuhi standar kinerja, tata kelola, dan kesiapan bisnis. Sejumlah perusahaan saat ini masih menjalani proses evaluasi sebelum keputusan IPO ditetapkan. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi sekaligus menciptakan nilai tambah terhadap aset negara.
BUMN yang dipersiapkan menuju pasar modal akan terlebih dahulu melalui proses pembenahan secara menyeluruh. Danantara akan melihat kondisi keuangan, prospek industri, struktur perusahaan, hingga kemampuan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan. Perusahaan yang masih membutuhkan restrukturisasi akan diperbaiki sebelum mendapatkan kesempatan menawarkan saham kepada masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, IPO tidak hanya digunakan sebagai sarana mendapatkan dana segar. Perusahaan juga dituntut mempunyai fundamental yang cukup kuat untuk menghadapi pengawasan investor publik.
Rencana IPO tersebut berjalan bersamaan dengan proses streamlining atau perampingan BUMN yang sedang dilakukan Danantara. Perusahaan negara dengan bidang usaha yang saling beririsan dapat dikonsolidasikan agar struktur bisnis menjadi lebih sederhana dan efisien. Anak maupun cucu perusahaan juga menjadi bagian yang dievaluasi untuk mengurangi duplikasi kegiatan usaha. Setelah struktur perusahaan lebih sehat, Danantara dapat menentukan BUMN yang mempunyai potensi dikembangkan secara mandiri maupun dibawa ke pasar modal. Proses ini membuat jadwal IPO setiap perusahaan dapat berbeda.
Masuknya BUMN ke bursa berpotensi memberikan sejumlah manfaat bagi perusahaan maupun negara. Perusahaan memperoleh alternatif pendanaan selain mengandalkan pinjaman, penyertaan modal, atau sumber internal. Dana hasil IPO dapat digunakan untuk ekspansi, pengembangan teknologi, pembangunan fasilitas, maupun peningkatan kapasitas usaha. Pada saat bersamaan, status sebagai perusahaan publik menuntut keterbukaan informasi yang lebih tinggi. Laporan keuangan dan berbagai keputusan material juga harus disampaikan sesuai ketentuan pasar modal.
Danantara juga perlu menentukan besarnya kepemilikan yang akan ditawarkan kepada publik apabila proses IPO benar-benar dilakukan. Pemerintah tetap dapat mempertahankan pengendalian terhadap perusahaan yang mempunyai fungsi strategis, sementara sebagian saham dibuka kepada investor. Struktur tersebut harus mempertimbangkan kebutuhan pendanaan sekaligus kepentingan negara dalam jangka panjang. Penentuan valuasi menjadi faktor penting agar aset BUMN tidak dilepas dengan harga yang tidak mencerminkan potensinya. Kondisi pasar ketika IPO berlangsung juga akan diperhitungkan sebelum penawaran saham dilakukan.
Kehadiran sejumlah BUMN baru di bursa juga berpotensi memperbesar kapitalisasi pasar modal Indonesia. Investor akan memperoleh pilihan emiten tambahan, terutama apabila perusahaan yang masuk berasal dari sektor strategis dengan skala bisnis besar. Namun, minat investor tetap akan bergantung pada kualitas perusahaan, prospek pertumbuhan, dan valuasi yang ditawarkan. Rekam jejak tata kelola juga menjadi pertimbangan penting bagi investor institusi maupun ritel. Karena itu, pembenahan internal menjadi tahapan yang tidak dapat dilewati hanya demi mempercepat IPO.
Rencana membawa BUMN ke bursa berkaitan erat dengan agenda Danantara mengoptimalkan aset perusahaan negara mulai 2027. Setelah fase konsolidasi dan streamlining, fokus pengelolaan akan semakin diarahkan pada peningkatan produktivitas serta nilai ekonomi aset. Pasar modal dapat menjadi salah satu instrumen untuk membuka nilai perusahaan sekaligus menghadirkan disiplin baru dalam pengelolaannya. Danantara juga dapat menggunakan skema kemitraan maupun investasi strategis untuk perusahaan yang belum sesuai dengan mekanisme IPO. Dengan demikian, setiap BUMN dapat memiliki strategi pengembangan berbeda berdasarkan karakter bisnisnya.
Sejumlah BUMN yang dinilai siap diperkirakan mulai memasuki tahapan lebih konkret setelah evaluasi portofolio selesai dilakukan. Danantara belum menjadikan IPO sebagai tujuan bagi seluruh perusahaan negara, melainkan salah satu pilihan untuk BUMN yang memiliki fundamental dan prospek memadai. Keberhasilan strategi tersebut akan sangat bergantung pada proses restrukturisasi, transparansi, valuasi, serta kondisi pasar ketika saham ditawarkan. Jika persiapan berjalan sesuai rencana, kehadiran perusahaan negara baru di bursa dapat menjadi bagian penting dari transformasi BUMN. Langkah itu sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memiliki saham perusahaan negara melalui mekanisme pasar modal.