Jakarta, 9 Oktober 2026 –
Menteri Ketenagakerjaan mendorong perguruan tinggi dan dunia industri memperkuat konsep link and match untuk mengurangi kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja. Kolaborasi dinilai semakin penting di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan tenaga kerja yang bergerak cepat. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memberikan bekal akademik, tetapi juga memastikan mahasiswa memiliki keterampilan yang relevan dengan kondisi dunia kerja. Sementara itu, industri diminta terlibat lebih aktif dalam proses pengembangan kompetensi calon tenaga kerja. Sinergi kedua pihak diharapkan mampu mempercepat penyerapan lulusan.
Kesenjangan kompetensi masih menjadi salah satu tantangan dalam pasar tenaga kerja Indonesia. Di satu sisi, perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan tertentu untuk mengikuti perkembangan bisnis dan teknologi. Di sisi lain, sebagian pencari kerja masih membutuhkan peningkatan keterampilan sebelum mampu memenuhi standar yang dibutuhkan perusahaan. Kondisi tersebut dapat membuat lowongan tersedia tetapi sulit terisi oleh kandidat yang tepat. Karena itu, penyelarasan antara pendidikan dan kebutuhan industri dinilai perlu dilakukan sejak mahasiswa masih menjalani proses pembelajaran.
Menaker menilai keterlibatan industri dapat dilakukan melalui berbagai bentuk kerja sama dengan perguruan tinggi. Perusahaan dapat memberikan masukan mengenai kompetensi yang sedang dibutuhkan sehingga kampus memiliki gambaran lebih jelas mengenai perkembangan dunia kerja. Program magang juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung di lingkungan profesional. Selain kemampuan teknis, mahasiswa dapat mempelajari budaya kerja, komunikasi, kedisiplinan, dan penyelesaian masalah. Pengalaman tersebut diharapkan membuat proses transisi dari kampus menuju dunia kerja menjadi lebih mudah.
Perguruan tinggi juga didorong melakukan penyesuaian kurikulum secara berkala agar tidak tertinggal dari perkembangan industri. Transformasi digital membuat sejumlah jenis pekerjaan berubah dengan cepat, sementara kebutuhan terhadap keterampilan baru terus bermunculan. Penguasaan teknologi, kemampuan mengolah data, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting. Meski demikian, pengembangan keterampilan praktis tetap perlu berjalan bersama penguatan kemampuan akademik. Kampus diharapkan menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu berkembang mengikuti perubahan.
Dunia industri pada saat yang sama diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna akhir tenaga kerja. Perusahaan dapat terlibat dalam penyusunan program pelatihan, pemberian materi praktis, hingga penyediaan kesempatan magang dan pembelajaran berbasis proyek. Praktisi industri juga dapat dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk memberikan gambaran mengenai persoalan nyata di tempat kerja. Kolaborasi semacam itu memungkinkan mahasiswa memahami standar kompetensi sebelum mereka lulus. Industri pun memperoleh kesempatan lebih awal untuk menemukan calon tenaga kerja yang sesuai kebutuhan.
Penguatan link and match juga dinilai penting untuk menghadapi perubahan struktur pekerjaan akibat otomatisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan. Beberapa pekerjaan mengalami perubahan tugas, sementara jenis pekerjaan baru bermunculan seiring perkembangan teknologi. Kondisi tersebut menuntut sistem pendidikan dan pelatihan bergerak lebih cepat dalam membaca kebutuhan kompetensi. Pekerja juga membutuhkan kesempatan melakukan peningkatan keterampilan maupun mempelajari kemampuan baru sepanjang kariernya. Kolaborasi kampus dan industri dapat menjadi salah satu cara mempersempit jarak antara perkembangan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia.
Selain mahasiswa, kerja sama tersebut dapat memberikan manfaat bagi perguruan tinggi dan perusahaan. Kampus memperoleh informasi mengenai kebutuhan kompetensi terbaru sehingga program pendidikan dapat terus diperbarui. Perusahaan di sisi lain berpeluang mendapatkan tenaga kerja yang telah memahami karakter serta kebutuhan industri. Hubungan yang berkelanjutan juga dapat dikembangkan melalui riset bersama, inovasi, sertifikasi kompetensi, maupun program pengembangan kewirausahaan. Dengan demikian, link and match tidak berhenti pada program magang, tetapi berkembang menjadi kemitraan jangka panjang.
Pemerintah berharap penguatan hubungan antara kampus dan industri mampu meningkatkan kualitas sekaligus daya saing tenaga kerja Indonesia. Kesenjangan kompetensi tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu kebijakan karena kebutuhan setiap sektor terus berubah. Perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan calon tenaga kerja perlu memiliki pemahaman yang semakin selaras mengenai keterampilan yang dibutuhkan. Kolaborasi yang konsisten dapat membuat lulusan lebih siap menghadapi persaingan sekaligus membantu perusahaan memperoleh sumber daya manusia yang tepat. Penguatan link and match pun diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam membangun pasar kerja Indonesia yang semakin adaptif.