Jakarta, 27 September 2026 –
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dengan total sekitar 62 hektare lahan terbakar dalam kurun 24 jam terakhir. Kejadian karhutla tersebut dilaporkan tersebar di empat provinsi dan menjadi perhatian karena musim kering masih meningkatkan kerawanan munculnya titik api. Tim gabungan di daerah terus melakukan pemadaman sekaligus pendinginan untuk mencegah api kembali menyala. BNPB juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait untuk mempercepat penanganan di lapangan. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap karhutla belum dapat dikurangi meskipun sejumlah wilayah sebelumnya menunjukkan penurunan titik panas.
Karhutla dalam periode tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran masih dapat muncul dengan cepat ketika kondisi vegetasi dan lahan cukup kering. Penanganan dilakukan melalui pengerahan personel darat untuk memadamkan api, membuat sekat agar kebakaran tidak meluas, serta melakukan pendinginan pada area yang telah terbakar. Pemeriksaan lapangan juga dibutuhkan untuk memastikan tidak terdapat bara yang tersisa di bawah permukaan, terutama pada kawasan dengan karakteristik gambut. Kebakaran pada lahan gambut mempunyai tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul setelah bagian atas terlihat padam. Karena itu, proses pemadaman tidak berhenti ketika kobaran api berhasil dikendalikan.
Perkembangan terbaru tersebut terjadi setelah pemerintah meningkatkan operasi pengendalian karhutla di sejumlah provinsi prioritas di Sumatera dan Kalimantan. Dalam periode sebelumnya, enam wilayah yang mendapat perhatian utama adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Tim gabungan mengandalkan pemadaman darat, patroli udara, pengecekan titik panas, serta penyiraman dari udara ketika kondisi memungkinkan. Operasi Modifikasi Cuaca juga digunakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi persyaratan meteorologis untuk membantu meningkatkan pembasahan lahan. Langkah tersebut dilakukan karena perubahan jumlah titik panas dapat berlangsung cepat mengikuti kondisi cuaca dan kekeringan.
Kementerian Kehutanan sebelumnya mencatat operasi penanganan karhutla sepanjang 2026 telah dilakukan ribuan kali dengan puluhan ribu hektare areal masuk dalam cakupan penanganan. Operasi tersebut melibatkan Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, serta unsur dunia usaha. Penanganan tidak hanya difokuskan pada pemadaman setelah kebakaran terjadi, tetapi juga patroli dan pemeriksaan terhadap indikasi titik panas dari pemantauan satelit. Pemerintah mengingatkan bahwa data hotspot merupakan indikasi panas dan tidak selalu berarti terjadi kebakaran sehingga verifikasi lapangan tetap diperlukan. Satu peristiwa kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu titik panas yang terbaca satelit.
Dampak karhutla tidak terbatas pada hilangnya tutupan vegetasi karena asap dapat memengaruhi kualitas udara dan aktivitas masyarakat. Pada periode karhutla yang lebih intens sebelumnya, kondisi udara di sejumlah titik pemantauan di Kalimantan dan Sumatera tercatat bervariasi mulai dari sedang hingga kategori yang lebih buruk. Asap juga sempat mengurangi jarak pandang di beberapa bandara, termasuk Pontianak, Palangka Raya, Palembang, Jambi, dan Banjarmasin. Situasi tersebut menunjukkan pentingnya penanganan sejak kebakaran masih berada dalam skala kecil. Pencegahan penyebaran asap menjadi semakin penting apabila titik api muncul berdekatan dengan kawasan permukiman atau fasilitas transportasi.
Pemerintah meminta masyarakat tidak membuka ataupun membersihkan lahan menggunakan api karena tindakan tersebut berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas ketika kondisi kering. Masyarakat di sekitar kawasan rawan juga diminta segera melaporkan kemunculan asap atau indikasi kebakaran kepada petugas setempat agar pemadaman dapat dilakukan sedini mungkin. Patroli dan pengecekan lapangan menjadi penting terutama pada wilayah yang sebelumnya berulang kali mengalami kebakaran. Upaya pencegahan dinilai lebih efektif dibandingkan menunggu api membesar dan membutuhkan pengerahan sumber daya dalam jumlah besar. Keterlibatan warga, pemerintah daerah, dan petugas lapangan menjadi bagian penting dari sistem pengendalian karhutla.
Catatan sekitar 62 hektare lahan terbakar dalam 24 jam di empat provinsi menunjukkan ancaman karhutla masih membutuhkan perhatian serius menjelang berakhirnya September. Pemerintah tetap mempertahankan operasi pengendalian meskipun jumlah titik panas di sejumlah wilayah sempat menurun dibandingkan periode puncak sebelumnya. Perubahan cuaca, ketersediaan sumber air, kondisi gambut, serta aktivitas manusia akan terus menjadi faktor yang menentukan tingkat risiko kebakaran. Pemadaman cepat terhadap setiap titik api dan pendinginan menyeluruh menjadi langkah utama untuk mencegah kebakaran berkembang lebih luas. Dengan kewaspadaan yang tetap dijaga, pemerintah berharap luas lahan terdampak dapat ditekan sekaligus mengurangi risiko gangguan asap terhadap kesehatan, transportasi, dan aktivitas masyarakat.