Jakarta, 10 September 2026 – Kepergian ayah Thalita Latief meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Hesti Purwadinata menjadi salah satu sahabat yang berusaha hadir untuk memberikan dukungan kepada Thalita dalam menghadapi masa kehilangan tersebut. Alih-alih memaksanya segera kembali menjalani aktivitas seperti biasa, Hesti memilih memberikan waktu dan ruang agar sahabatnya dapat bersedih. Menurut Hesti, kehilangan orang tua merupakan pengalaman emosional yang tidak mudah dilewati dan setiap orang memiliki cara berbeda untuk menghadapinya. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran orang terdekat dinilai menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.
Hesti memahami bahwa tidak selalu ada kalimat yang mampu menghilangkan kesedihan seseorang setelah kehilangan anggota keluarga. Karena itu, ia tidak berusaha memberikan terlalu banyak nasihat kepada Thalita. Baginya, dukungan sederhana seperti menemani, mendengarkan, dan memberikan pelukan terkadang jauh lebih dibutuhkan. Hesti menggambarkan kondisi tersebut dengan mengatakan bahwa orang-orang di sekitar Thalita pada akhirnya hanya dapat memberikan pelukan. Selebihnya, Thalita perlu menjalani proses dukanya secara perlahan sesuai dengan kesiapan dirinya.
Hubungan pertemanan yang terjalin membuat Hesti berusaha memahami kondisi emosional Thalita tanpa memberikan tekanan. Ia menyadari kesedihan akibat kehilangan ayah tidak mungkin hilang dalam waktu singkat. Ada berbagai kenangan dan pengalaman bersama keluarga yang dapat kembali muncul setelah seseorang ditinggalkan untuk selamanya. Karena itu, Hesti tidak menetapkan kapan Thalita harus kembali terlihat ceria atau menjalani rutinitas dengan normal. Ia memilih berada di samping sahabatnya dan membiarkan proses tersebut berjalan secara alami.
Bagi Hesti, memberikan kesempatan kepada seseorang untuk bersedih merupakan bagian penting dari dukungan. Orang yang sedang berduka tidak selalu membutuhkan dorongan untuk segera melupakan kesedihannya. Pada beberapa keadaan, mereka justru membutuhkan ruang untuk menangis, mengenang orang yang telah berpulang, serta menerima perubahan besar dalam kehidupannya. Sikap tersebut yang berusaha diterapkan Hesti ketika mendampingi Thalita. Ia ingin sahabatnya mengetahui bahwa ada orang-orang yang tetap berada di dekatnya tanpa menuntut apa pun.
Kehilangan ayah menjadi fase berat bagi Thalita karena hubungan keluarga mempunyai tempat penting dalam perjalanan hidupnya. Setelah kabar duka tersebut diketahui publik, perhatian dan ucapan belasungkawa berdatangan dari sahabat, rekan di industri hiburan, serta masyarakat. Dukungan tersebut menjadi pengingat bahwa Thalita tidak menghadapi masa berkabung seorang diri. Meski demikian, Hesti menyadari bahwa perhatian dari orang lain tidak serta-merta dapat menghilangkan rasa kehilangan. Dukungan hanya dapat membantu seseorang melewati hari-hari berat sembari perlahan beradaptasi dengan keadaan baru.
Hesti juga tidak ingin menjadikan masa duka Thalita sebagai sesuatu yang harus segera dilewati demi kembali menjalankan pekerjaan. Dunia hiburan memang menuntut para figur publik untuk tetap tampil di depan kamera dan memenuhi berbagai agenda profesional. Namun, kondisi emosional tetap membutuhkan perhatian ketika seseorang baru kehilangan anggota keluarga. Hesti menilai sahabatnya berhak menentukan sendiri kapan merasa cukup siap untuk kembali beraktivitas. Pekerjaan dapat menunggu, sementara kesempatan untuk memproses kehilangan perlu dihargai.
Persahabatan keduanya selama ini juga membuat Hesti mengetahui bagaimana cara mendampingi Thalita dalam berbagai situasi. Dukungan tidak selalu harus diwujudkan melalui percakapan panjang atau nasihat mengenai cara menghadapi kehilangan. Dalam beberapa kesempatan, keberadaan seseorang di samping orang yang sedang bersedih sudah dapat memberikan rasa nyaman. Pelukan yang disebut Hesti menjadi simbol sederhana dari kehadiran tersebut. Ia memilih menunjukkan empati melalui tindakan tanpa berusaha mengambil alih proses emosional yang sedang dijalani sahabatnya.
Masa berkabung sendiri tidak mempunyai durasi yang sama bagi setiap orang. Seseorang dapat terlihat tenang pada satu waktu kemudian kembali merasa kehilangan ketika mengingat momen tertentu bersama orang yang telah meninggal. Perasaan sedih juga dapat muncul ketika menghadapi hari penting, tempat tertentu atau aktivitas yang sebelumnya dilakukan bersama keluarga. Karena itu, lingkungan terdekat mempunyai peranan penting untuk tidak memberikan tekanan agar seseorang segera terlihat baik-baik saja. Dukungan yang konsisten dapat membantu orang yang berduka menjalani proses tersebut dengan lebih nyaman.
Sikap Hesti terhadap Thalita sekaligus memperlihatkan sisi persahabatan mereka di luar kehidupan sebagai figur publik. Di depan kamera, keduanya dikenal mempunyai aktivitas dan karakter yang dekat dengan dunia hiburan. Namun, ketika menghadapi persoalan pribadi seperti kehilangan anggota keluarga, hubungan tersebut berubah menjadi ruang untuk saling menguatkan. Hesti memilih tidak menjadikan kesedihan Thalita sebagai sesuatu yang perlu banyak dibicarakan. Fokusnya adalah memastikan sang sahabat mempunyai orang yang dapat ditemui ketika membutuhkan dukungan.
Bagi keluarga yang sedang berduka, perhatian dari kerabat dan sahabat sering kali menjadi bagian penting dalam masa setelah pemakaman. Pada periode awal, rumah biasanya dipenuhi orang yang menyampaikan belasungkawa, tetapi rasa kehilangan dapat bertahan jauh lebih lama setelah suasana kembali sepi. Kehadiran teman dekat pada fase tersebut dapat membantu seseorang merasa tetap memiliki dukungan. Hesti tampaknya memahami bahwa pendampingan tidak berhenti ketika prosesi perpisahan telah selesai. Ia memberikan kesempatan kepada Thalita untuk menentukan sendiri bentuk dukungan yang dibutuhkan.
Hesti juga berharap sahabatnya dapat perlahan menerima kepergian sang ayah tanpa merasa harus menyembunyikan kesedihan. Menangis maupun mengambil waktu dari kesibukan merupakan respons yang wajar ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai. Ia tidak ingin memberikan tuntutan kepada Thalita untuk segera kembali menjadi sosok ceria seperti yang biasa terlihat publik. Sebaliknya, Hesti berusaha menjaga komunikasi dan berada di dekatnya ketika dibutuhkan. Pendekatan tersebut menjadi caranya menghormati proses duka yang sangat personal bagi setiap individu.
Kepergian ayah Thalita Latief pada akhirnya tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga memperlihatkan kuatnya dukungan dari lingkungan persahabatan di sekelilingnya. Hesti Purwadinata memilih mengambil posisi sebagai sahabat yang hadir tanpa memaksakan nasihat maupun batas waktu untuk pulih. Baginya, saat kata-kata tidak lagi cukup untuk menghibur seseorang yang kehilangan orang tua, pelukan dan kehadiran dapat menjadi bentuk dukungan paling sederhana. Thalita pun diberikan ruang untuk menangis, mengenang sang ayah, dan menjalani masa dukanya sesuai dengan waktunya sendiri. Dukungan dari keluarga dan sahabat diharapkan dapat terus menguatkannya dalam melewati fase kehilangan tersebut.