Jakarta, 11 September 2026 – Operasi pencarian terhadap jurnalis dan kru yang dilaporkan hilang saat melakukan peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau terus dioptimalkan hingga Senin mendatang. Tim SAR gabungan memperluas penyisiran di perairan Selat Sunda dengan mempertimbangkan kondisi arus laut, cuaca, serta informasi terakhir mengenai perjalanan rombongan sebelum kehilangan kontak. Sejumlah unsur laut dan udara dikerahkan untuk meningkatkan peluang menemukan korban maupun petunjuk yang dapat mengarahkan pencarian. Koordinasi dilakukan antara Basarnas, TNI Angkatan Laut, kepolisian, pemerintah daerah, serta berbagai unsur pendukung lainnya. Operasi juga mempertimbangkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang membuat keselamatan personel harus menjadi perhatian utama selama pencarian. Setiap temuan di laut diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan apakah memiliki hubungan dengan kapal maupun rombongan yang hilang.
Fokus pencarian tidak hanya berada di sekitar titik terakhir rombongan diketahui berada, tetapi diperluas mengikuti perkiraan pergerakan arus laut. Tim menggunakan data oseanografi dan kondisi cuaca untuk memperkirakan kemungkinan objek terbawa dari lokasi awal menuju wilayah lain di Selat Sunda. Perubahan arah dan kecepatan angin juga dapat memengaruhi pergerakan benda yang mengapung di permukaan. Karena itu, area pencarian dapat berubah setiap hari berdasarkan hasil evaluasi tim di lapangan. Kapal-kapal yang terlibat melakukan penyisiran menggunakan pola tertentu agar wilayah yang telah diperiksa dapat dipetakan dengan jelas. Informasi dari nelayan maupun kapal yang melintas juga terus dikumpulkan untuk membantu memperluas pengamatan.
TNI Angkatan Laut menjadi salah satu unsur yang memperkuat operasi dengan mengerahkan kapal perang dan personel untuk menyisir kawasan perairan. Kehadiran armada tersebut memungkinkan pencarian dilakukan pada area yang lebih luas sekaligus mendukung koordinasi dengan kapal SAR lainnya. Pengamatan dari atas kapal dilakukan untuk mencari benda, serpihan, maupun tanda lain yang dapat berkaitan dengan rombongan. Peralatan navigasi dan komunikasi juga digunakan untuk menjaga koordinasi antarunit selama berada di laut. Apabila terdapat temuan mencurigakan, posisi akan ditandai dan tim terdekat diarahkan untuk melakukan pemeriksaan. Strategi tersebut diperlukan karena luasnya Selat Sunda membuat pencarian secara visual membutuhkan pengerahan banyak unsur secara bersamaan.
Pencarian dari udara turut menjadi bagian penting untuk menjangkau wilayah yang sulit diperiksa secara cepat menggunakan kapal. Pemantauan udara memberikan sudut pandang lebih luas sehingga benda yang mengapung dapat terdeteksi sebelum dilakukan pengecekan oleh unsur laut. Namun, efektivitas pengamatan sangat dipengaruhi kondisi awan, hujan, jarak pandang, dan gelombang. Tim karena itu harus menyesuaikan jadwal penerbangan dengan perkembangan cuaca. Setiap hasil pengamatan kemudian dikomunikasikan kepada pusat koordinasi operasi untuk dibandingkan dengan data dari kapal. Penggunaan berbagai metode secara bersamaan diharapkan memperkecil area yang belum terpantau.
Operasi pencarian juga mendapatkan perhatian setelah sejumlah benda ditemukan di kawasan perairan selama penyisiran berlangsung. Setiap barang yang memiliki kemungkinan hubungan dengan kapal hilang harus melalui proses identifikasi sebelum dapat dinyatakan sebagai petunjuk. Keluarga maupun pihak yang mengetahui perlengkapan rombongan dapat dilibatkan untuk membantu memastikan kepemilikan barang. Sebelumnya, temuan pelampung di kawasan pencarian sempat diperiksa karena diduga berkaitan dengan kapal yang digunakan para jurnalis. Namun, pemilik kapal menyatakan pelampung tersebut bukan berasal dari kapalnya. Verifikasi semacam itu penting agar tim tidak mengalihkan sumber daya menuju arah pencarian yang didasarkan pada petunjuk keliru.
Kendaraan yang digunakan rombongan sebelum menuju kawasan Anak Krakatau juga telah ditemukan masih terparkir di penginapan. Temuan tersebut membantu penyidik dan tim pencarian menyusun kembali perjalanan rombongan sebelum mereka bergerak menuju laut. Informasi mengenai waktu keberangkatan, lokasi naik kapal, komunikasi terakhir, dan rencana peliputan terus dihimpun untuk mempersempit kemungkinan posisi terakhir. Data dari telepon seluler maupun komunikasi lainnya dapat menjadi bagian penting apabila tersedia dan dapat dianalisis. Keterangan pemilik kapal, pengelola penginapan, nelayan, serta pihak yang terakhir berinteraksi dengan rombongan juga diperlukan. Rekonstruksi perjalanan menjadi salah satu cara untuk melengkapi pencarian yang dilakukan berdasarkan kondisi laut.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi faktor tambahan yang harus diperhitungkan dalam operasi. Badan Geologi masih mencatat aktivitas kegempaan di gunung tersebut meskipun fase erupsi menerus sebelumnya telah berakhir. Kondisi vulkanik dapat berubah sehingga tim SAR harus menjaga jarak sesuai rekomendasi keselamatan yang berlaku. Abu vulkanik juga dapat memengaruhi jarak pandang dan operasi udara apabila kembali terjadi erupsi. Koordinasi dengan petugas pemantauan gunung api karena itu terus dilakukan agar unsur pencarian mendapatkan informasi terbaru. Keselamatan personel menjadi prioritas karena operasi tidak boleh menambah korban ketika aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Keluarga para jurnalis dan kru yang hilang terus menunggu perkembangan operasi dari posko pencarian. Ketidakpastian selama beberapa hari menjadi beban berat sehingga pendampingan psikologis terhadap keluarga juga mendapatkan perhatian. Sejumlah pihak telah meminta pemerintah memastikan keluarga memperoleh informasi yang jelas dan berkala mengenai perkembangan pencarian. Informasi sebaiknya disampaikan melalui jalur resmi untuk menghindari kabar yang belum terverifikasi berkembang di media sosial. Setiap temuan juga perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum disampaikan sebagai perkembangan penting. Pendekatan tersebut dibutuhkan untuk menjaga keluarga dari harapan maupun kekhawatiran yang muncul akibat informasi keliru.
Masyarakat pesisir dan nelayan di sekitar Selat Sunda turut diminta membantu dengan melaporkan apabila melihat benda atau kondisi yang tidak biasa di laut. Nelayan memiliki pengetahuan mengenai arus lokal dan wilayah perairan yang dapat memberikan informasi tambahan kepada tim SAR. Namun, masyarakat tidak dianjurkan melakukan pencarian mandiri menuju kawasan berbahaya, terutama mendekati zona aktivitas Anak Krakatau. Informasi dapat disampaikan kepada petugas agar pemeriksaan dilakukan oleh tim yang memiliki perlengkapan dan kemampuan sesuai kebutuhan. Kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan pengamatan tanpa menambah risiko bagi warga. Kapal yang melintas juga diharapkan meningkatkan kewaspadaan selama operasi masih berlangsung.
Tim SAR gabungan akan mengoptimalkan pencarian hingga Senin dengan terus mengevaluasi luas area, kondisi cuaca, pergerakan arus, dan seluruh petunjuk yang diperoleh. Setiap hari operasi menjadi penting karena perubahan kondisi laut dapat membuat objek berpindah semakin jauh dari titik awal. Pengerahan kapal, pengamatan udara, analisis data, serta informasi masyarakat akan terus dikombinasikan untuk meningkatkan efektivitas pencarian. Keputusan mengenai langkah setelah Senin nantinya akan mempertimbangkan hasil evaluasi keseluruhan operasi dan perkembangan terbaru di lapangan. Keluarga diharapkan tetap memperoleh pendampingan dan informasi selama proses tersebut berlangsung. Seluruh unsur yang terlibat masih berupaya menemukan para jurnalis dan kru serta memastikan setiap kemungkinan di kawasan Selat Sunda telah diperiksa secara maksimal.