Jakarta, 3 Oktober 2026 – Usianya baru 11 tahun, tetapi Mikhayla Shanum Caya sudah membawa nama Indonesia ke panggung Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Atlet skateboard yang mewakili Papua Pegunungan tersebut tercatat sebagai atlet termuda dalam kontingen Indonesia pada edisi kali ini. Mikhayla turun di nomor skateboard women’s park menghadapi atlet-atlet Asia yang sebagian besar lebih tua dan berpengalaman. Kehadirannya menjadi perhatian karena perjalanan menuju level internasional telah dimulai sejak usia sangat belia.
Mikhayla lahir pada 30 September 2014 dan tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan skateboard. Sang ayah, Anthony Adam Caya, juga dikenal sebagai atlet skateboard dan menjadi sosok yang pertama kali memperkenalkannya kepada olahraga tersebut. Mikhayla mengaku sudah mengenal papan skateboard sejak masih sangat kecil dan mulai dapat memainkannya ketika berusia sekitar empat hingga lima tahun. Dukungan keluarga kemudian menjadi salah satu fondasi perjalanan Mikhayla menekuni skateboard secara lebih serius.
Sebelum menembus Asian Games, pengalaman kompetitif Mikhayla telah terbentuk melalui sejumlah ajang. Ia pernah mewakili Papua Pegunungan dalam nomor ekshibisi skateboard pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024. Setahun kemudian, Mikhayla memperkuat Indonesia pada SEA Games Thailand 2025 dan berhasil menembus final nomor women’s park. Perjalanan tersebut memberinya kesempatan menghadapi atmosfer kompetisi internasional sebelum mendapatkan tantangan yang lebih besar di Asian Games.
Di Aichi-Nagoya, Mikhayla menjalani pertandingan nomor park putri pada 24 September 2026. Ia menyelesaikan babak kualifikasi di posisi ke-12 sehingga belum berhasil masuk delapan besar yang berhak melaju ke final. Meski langkahnya terhenti pada fase tersebut, penampilannya menjadi pengalaman penting mengingat usianya baru 11 tahun. Mikhayla mendapatkan kesempatan langsung mengukur kemampuannya dengan skateboarder papan atas Asia di salah satu kompetisi olahraga terbesar di kawasan.
Di balik penampilannya, Mikhayla menjalani rutinitas latihan yang cukup intensif. Ia mengungkapkan dapat menghabiskan waktu hingga sekitar delapan jam dalam sehari untuk berlatih skateboard sambil tetap membagi waktu dengan kegiatan sekolah. Seusai sekolah, Mikhayla bisa langsung menuju tempat latihan dan baru beristirahat pada malam hari. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari upayanya terus mengembangkan teknik serta memperbanyak trik yang dapat digunakan ketika bertanding.
Sebelum Asian Games dimulai, Mikhayla mengakui dirinya merasa senang sekaligus gugup karena harus bersaing dengan atlet yang lebih senior. Jepang menjadi salah satu kekuatan yang paling diperhitungkannya karena memiliki tradisi skateboard yang kuat dan sederet atlet berprestasi internasional. Untuk menghadapi persaingan itu, Mikhayla tidak hanya mematangkan trik yang sudah dikuasai, tetapi juga mencoba mempelajari teknik baru. Keberaniannya menghadapi lawan dengan pengalaman lebih panjang menjadi bagian penting dari proses perkembangannya sebagai atlet muda.
Asian Games 2026 pun menjadi satu tahapan dalam perjalanan panjang Mikhayla, bukan sekadar persoalan hasil pertandingan. Setelah merasakan persaingan tingkat Asia pada usia 11 tahun, ia sudah memasang target lebih tinggi untuk masa depan. Mikhayla menyatakan memiliki cita-cita menjadi atlet Olimpiade dan suatu hari meraih kemenangan di panggung tersebut. Dengan usia yang masih sangat muda dan pengalaman internasional yang terus bertambah, skateboarder asal Papua Pegunungan itu kini memiliki waktu panjang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mengejar mimpinya membawa prestasi bagi Indonesia.