Jakarta, 31 Oktober 2026 – Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya membatasi konsumsi gula mendorong meningkatnya perhatian terhadap berbagai jenis pemanis alternatif. Tiga bahan yang kerap digunakan dalam produk makanan dan minuman rendah gula adalah stevia murni, sukralosa, dan neotame. Ketiganya mampu menghasilkan rasa manis dengan jumlah penggunaan jauh lebih sedikit dibandingkan gula pasir biasa. Meski memiliki fungsi serupa, masing-masing pemanis mempunyai asal bahan, tingkat kemanisan, karakteristik rasa, dan batas konsumsi yang berbeda. Perbedaan tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak menganggap semua produk berlabel bebas gula memiliki kandungan dan manfaat kesehatan yang sama. Pemilihan pemanis juga perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, pola makan, serta komposisi bahan tambahan dalam produk. Dengan memahami karakteristik ketiganya, konsumen dapat menentukan pilihan yang lebih sesuai tanpa mengabaikan prinsip konsumsi makanan secara seimbang.
Stevia merupakan pemanis yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana, tumbuhan yang dikenal memiliki senyawa alami dengan tingkat kemanisan tinggi. Komponen utama yang memberikan rasa manis pada stevia adalah glikosida steviol, termasuk steviosida dan rebaudiosida. Senyawa tersebut dapat menghasilkan rasa manis sekitar 200 hingga 400 kali lebih kuat dibandingkan gula pasir, bergantung pada jenis dan tingkat kemurniannya. Karena tingkat kemanisannya tinggi, jumlah yang diperlukan untuk memberikan rasa manis pada makanan atau minuman relatif kecil. Istilah stevia murni pada produk komersial umumnya mengacu pada ekstrak glikosida steviol berkadar kemurnian tinggi, bukan daun stevia yang dikonsumsi secara langsung. Beberapa produk yang dipasarkan sebagai pemanis stevia juga dicampur dengan eritritol, dekstrosa, atau bahan pengisi lainnya untuk memudahkan penggunaan. Oleh sebab itu, konsumen perlu membaca daftar komposisi agar mengetahui apakah produk benar-benar mengandung ekstrak stevia tanpa campuran atau merupakan kombinasi beberapa bahan pemanis.
Berbeda dengan stevia, sukralosa merupakan pemanis buatan yang diproduksi melalui modifikasi struktur kimia sukrosa atau gula pasir. Proses tersebut menghasilkan senyawa dengan tingkat kemanisan sekitar 600 kali lebih tinggi dibandingkan gula biasa. Sukralosa banyak digunakan dalam minuman rendah kalori, makanan penutup, produk olahan susu, hingga berbagai makanan kemasan. Salah satu karakteristiknya adalah kemampuan mempertahankan rasa manis pada sejumlah proses pengolahan makanan yang melibatkan pemanasan. Meski berasal dari modifikasi molekul gula, sukralosa tidak dimanfaatkan tubuh sebagai sumber energi dengan cara yang sama seperti sukrosa. Dalam penggunaan sesuai ketentuan, pemanis ini umumnya memberikan kontribusi kalori yang sangat kecil atau hampir tidak ada. Namun, produk yang mengandung sukralosa belum tentu bebas kalori karena bahan lain dalam makanan atau minuman tersebut tetap dapat menyumbangkan energi.
Neotame memiliki karakteristik berbeda karena tingkat kemanisannya jauh lebih tinggi dibandingkan stevia maupun sukralosa. Pemanis sintetis ini merupakan turunan aspartam yang mengalami modifikasi struktur kimia sehingga memiliki sifat dan metabolisme berbeda. Tingkat kemanisan neotame diperkirakan mencapai 7.000 hingga 13.000 kali lebih kuat daripada gula pasir. Dengan intensitas tersebut, produsen hanya membutuhkan neotame dalam jumlah sangat kecil untuk menghasilkan tingkat kemanisan tertentu. Bahan ini dapat digunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman, termasuk produk yang membutuhkan pemanis dengan kestabilan terhadap panas. Neotame juga dapat berfungsi sebagai penguat cita rasa pada formulasi pangan tertentu. Walaupun memiliki hubungan kimia dengan aspartam, neotame dinilai aman digunakan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk bagi penderita fenilketonuria, karena jumlah fenilalanin yang dihasilkan dari penggunaannya sangat kecil.
Dari sisi keamanan konsumsi, ketiga pemanis tersebut memiliki nilai acceptable daily intake atau ADI yang ditetapkan berdasarkan evaluasi ilmiah. ADI merupakan perkiraan jumlah suatu zat yang dapat dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup tanpa menimbulkan risiko kesehatan yang berarti berdasarkan bukti yang tersedia. Untuk glikosida steviol, batas ADI yang ditetapkan oleh komite ahli gabungan FAO dan WHO adalah 4 miligram per kilogram berat badan per hari, dihitung sebagai ekuivalen steviol. Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menetapkan ADI sukralosa sebesar 5 miligram per kilogram berat badan per hari. FDA juga menetapkan ADI neotame sebesar 0,3 miligram per kilogram berat badan per hari, sedangkan otoritas di sejumlah wilayah lain dapat menggunakan angka yang berbeda berdasarkan evaluasi masing-masing. Perbedaan nilai ADI tersebut tidak dapat digunakan secara langsung untuk menentukan pemanis mana yang paling berbahaya karena tingkat kemanisan dan jumlah penggunaan setiap bahan juga berbeda. Ketiganya telah melalui penilaian keamanan untuk penggunaan pangan sesuai batas dan ketentuan yang ditetapkan otoritas terkait.
Dalam praktik sehari-hari, pemilihan antara stevia, sukralosa, dan neotame juga dipengaruhi karakteristik rasa serta tujuan penggunaannya. Stevia sering dipilih oleh konsumen yang mengutamakan pemanis berbahan dasar tanaman, meskipun beberapa formulasi dapat meninggalkan sensasi rasa pahit atau menyerupai licorice. Sukralosa memiliki profil rasa yang relatif mendekati gula sehingga banyak digunakan dalam produk minuman dan makanan rendah kalori. Neotame lebih sering dimanfaatkan dalam formulasi industri karena tingkat kemanisannya sangat tinggi dan memerlukan pengukuran dalam jumlah kecil. Ketiga pemanis tersebut umumnya tidak menyebabkan peningkatan kadar gula darah secara langsung seperti konsumsi gula pasir dalam jumlah setara rasa manisnya. Namun, respons tubuh terhadap produk makanan secara keseluruhan tetap dipengaruhi kandungan karbohidrat, lemak, dan bahan tambahan lainnya. Konsumen dengan diabetes atau kondisi metabolik tertentu tetap perlu memperhatikan informasi nilai gizi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila membutuhkan pengaturan pola makan khusus.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sebelumnya juga mengingatkan bahwa penggunaan pemanis non-gula tidak seharusnya menjadi satu-satunya strategi untuk mengendalikan berat badan dalam jangka panjang. Rekomendasi tersebut didasarkan pada kajian yang tidak menemukan manfaat jangka panjang yang konsisten terhadap pengurangan lemak tubuh, sekaligus mempertimbangkan kemungkinan hubungan dengan sejumlah risiko kesehatan dalam penelitian observasional. WHO menegaskan bahwa rekomendasi tersebut bukan merupakan penilaian ulang terhadap batas keamanan masing-masing pemanis dan tidak ditujukan bagi individu yang telah memiliki diabetes. Oleh karena itu, penggunaan stevia, sukralosa, maupun neotame perlu dipahami sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi gula tambahan, bukan sebagai jaminan bahwa suatu produk otomatis lebih sehat. Membiasakan konsumsi air putih, mengurangi minuman manis, serta memilih makanan dengan kandungan gizi seimbang tetap menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan. Konsumen juga dianjurkan memeriksa izin edar, komposisi, dan petunjuk penggunaan sebelum membeli produk pemanis alternatif. Dengan mempertimbangkan asal bahan, tingkat kemanisan, keamanan, dan kebutuhan pribadi, masyarakat dapat menggunakan pemanis pengganti gula secara lebih bijak tanpa bergantung secara berlebihan pada rasa manis dalam pola makan sehari-hari.