Jakarta, 2 September 2026 – Peta persaingan menuju Pemilihan Presiden 2029 mulai menunjukkan dinamika baru setelah Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei elektabilitas sejumlah tokoh yang berpotensi maju sebagai calon presiden. Dalam simulasi pertanyaan terbuka, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mencatat elektabilitas 19,8 persen dan menempati posisi kedua. Angka tersebut membuat KDM berada cukup jauh di atas sejumlah tokoh lain yang selama ini turut diperbincangkan dalam bursa kandidat. Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tercatat memiliki elektabilitas sebesar 2 persen dalam simulasi yang sama. Hasil tersebut menjadi salah satu gambaran awal mengenai tingkat keterpilihan para tokoh menjelang kontestasi politik nasional 2029.
Dalam survei tersebut, Presiden Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas dengan elektabilitas 32,2 persen. Posisi kedua ditempati Dedi Mulyadi dengan 19,8 persen, sedangkan Anies Baswedan berada sangat dekat dengan angka 19,5 persen. Selisih antara KDM dan Anies hanya 0,3 poin persentase sehingga persaingan untuk posisi kedua terlihat cukup ketat. Setelah tiga nama tersebut, Ganjar Pranowo memperoleh 4,5 persen, disusul Sherly Tjoanda dengan 3,5 persen. Agus Harimurti Yudhoyono tercatat memperoleh 2,3 persen, sedangkan Joko Widodo dan Gibran sama-sama berada di angka 2 persen.
Hasil tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan tingkat elektabilitas antara Gibran dengan sejumlah tokoh yang mulai menguat dalam bursa Pilpres 2029. Sebagai Wakil Presiden yang saat ini mendampingi Prabowo, Gibran masih berada di kelompok bawah dalam simulasi pertanyaan terbuka. Meski demikian, angka elektabilitas dalam survei yang dilakukan beberapa tahun sebelum pemilu belum dapat dianggap sebagai gambaran akhir peta persaingan. Dinamika politik masih sangat mungkin berubah seiring munculnya kebijakan baru, peningkatan popularitas tokoh, serta terbentuknya koalisi partai politik. Faktor kinerja pemerintahan dan tingkat penerimaan masyarakat terhadap para kandidat juga berpotensi memengaruhi perubahan elektabilitas dalam survei berikutnya.
Sementara itu, posisi Dedi Mulyadi menjadi salah satu perhatian utama dari hasil survei Median. Elektabilitas sebesar 19,8 persen menempatkan KDM hanya terpaut 12,4 poin dari Prabowo yang berada di posisi pertama. Bahkan, jarak KDM dengan Anies yang berada di urutan ketiga sangat tipis sehingga keduanya berpotensi menjadi rival utama dalam perebutan posisi kedua. Kekuatan Dedi juga terlihat ketika elektabilitas dipetakan berdasarkan wilayah. Dalam sejumlah kawasan, terutama Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, KDM tercatat memperoleh dukungan yang relatif kuat.
Dalam simulasi semi terbuka, posisi Dedi Mulyadi juga tetap berada di urutan kedua dengan elektabilitas 20,6 persen. Prabowo berada di posisi pertama dengan 32,4 persen, sementara Anies Baswedan memperoleh 20,5 persen. Perbedaan hanya 0,1 poin antara KDM dan Anies menunjukkan bahwa persaingan keduanya masih sangat terbuka. Ganjar Pranowo berada di angka 5 persen, Sherly Tjoanda 4,1 persen, sedangkan Gibran mencatat 2,6 persen dalam simulasi tersebut. Perubahan angka antara pertanyaan terbuka dan semi terbuka memperlihatkan bahwa tingkat pengenalan nama kandidat serta pilihan responden ketika diberikan daftar tokoh dapat menghasilkan perbedaan elektabilitas.
Survei Median tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pertarungan menuju Pilpres 2029 masih berada pada tahap awal dan belum membentuk konfigurasi pasangan calon secara resmi. Prabowo masih menjadi figur dengan tingkat elektabilitas tertinggi, sementara Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan bersaing ketat untuk posisi berikutnya. Di sisi lain, Gibran masih membutuhkan peningkatan elektabilitas apabila ingin masuk ke kelompok kandidat teratas. Perubahan preferensi masyarakat dalam beberapa tahun mendatang akan sangat bergantung pada perkembangan politik, ekonomi, kinerja pemerintahan, serta strategi partai dalam menentukan figur yang akan diusung.
Hasil survei ini pada akhirnya menjadi salah satu indikator awal mengenai bagaimana masyarakat melihat sejumlah nama yang berpotensi masuk dalam bursa Pilpres 2029. Elektabilitas 2 persen yang diperoleh Gibran menunjukkan bahwa popularitas sebagai pejabat publik belum otomatis berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan sebagai calon presiden. Sebaliknya, perolehan 19,8 persen yang diraih Dedi Mulyadi memperlihatkan adanya ruang dukungan yang cukup besar terhadap figur di luar nama-nama yang selama ini dominan dalam kontestasi nasional. Dengan waktu menuju Pemilu 2029 yang masih cukup panjang, peta elektabilitas tersebut masih sangat terbuka untuk berubah.