Jakarta, 4 September 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk menyatakan perang dengan Iran telah berakhir, meskipun bentrokan militer antara kedua negara kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pembahasan mengenai kemungkinan deklarasi tersebut disebut telah berlangsung antara Trump dan sejumlah penasihat senior di pemerintahannya. Trump dikabarkan cenderung mendukung langkah untuk mengakhiri fase perang terbuka dan beralih pada tekanan ekonomi yang lebih intensif terhadap Teheran. Namun, belum ada keputusan resmi mengenai kapan atau dalam kondisi seperti apa deklarasi tersebut akan disampaikan. Situasi menjadi semakin kompleks karena militer Amerika Serikat pada saat bersamaan masih mempertahankan kekuatan besar di kawasan Timur Tengah.
Pertimbangan tersebut muncul ketika konflik Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung selama berbulan-bulan dan memberikan tekanan besar terhadap keamanan kawasan maupun perekonomian global. Pemerintahan Trump menilai tekanan ekonomi dapat menjadi instrumen utama untuk memaksa Teheran mengubah kebijakan strategisnya tanpa harus terus mempertahankan operasi militer berskala besar. Washington telah memperluas langkah untuk membatasi berbagai sumber pendapatan Iran, termasuk sektor minyak, pelayaran, penerbangan, teknologi, perdagangan emas, dan aset digital. Strategi tersebut diarahkan untuk mempersempit kemampuan pemerintah Iran memperoleh dana yang dapat digunakan mempertahankan program militer dan nuklirnya. Meski demikian, Iran sejauh ini masih menunjukkan sikap menentang tekanan Washington.
Di tengah pembicaraan mengenai kemungkinan mengakhiri perang, Amerika Serikat justru masih mempertahankan sekitar 50.000 personel militernya di kawasan Timur Tengah. Kekuatan tersebut didukung sekitar 19 kapal perang, termasuk kapal induk dan kapal perusak berpeluru kendali yang memberikan Washington kemampuan untuk melakukan operasi dengan cepat apabila situasi kembali memburuk. Penempatan sejumlah unit militer bahkan dilaporkan diperpanjang hingga 2027, memperlihatkan bahwa Pentagon tetap mempersiapkan skenario konflik berkepanjangan. Kebijakan tersebut memberikan fleksibilitas kepada Trump untuk kembali menggunakan kekuatan militer apabila Iran melakukan tindakan yang dianggap mengancam pasukan atau kepentingan Amerika Serikat. Dengan demikian, deklarasi berakhirnya perang belum tentu berarti seluruh kekuatan militer AS akan segera meninggalkan kawasan.
Trump sendiri memberikan sinyal bahwa gelombang terbaru operasi militer terhadap Iran tidak akan berlangsung terlalu lama. Setelah Amerika Serikat kembali menyerang sejumlah fasilitas militer Iran, Trump mengatakan pemerintahannya tetap memiliki kemampuan melakukan serangan tambahan apabila diperlukan. Sasaran operasi terbaru mencakup sejumlah instalasi yang dikaitkan dengan sistem radar, rudal, serta fasilitas militer baru di sekitar Selat Hormuz. Washington menilai fasilitas tersebut dapat digunakan Iran untuk meningkatkan kemampuan ofensif maupun mengganggu aktivitas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Pada saat yang sama, Iran melakukan serangan balasan terhadap sejumlah kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
Kemungkinan deklarasi berakhirnya perang juga menghadapi tantangan karena kedua negara belum mencapai kesepakatan politik yang dapat menjadi dasar perdamaian jangka panjang. Washington masih menginginkan perubahan signifikan terhadap program nuklir Iran, sementara Teheran belum menunjukkan kesediaan menerima tuntutan tersebut sepenuhnya. Perbedaan mengenai keamanan kawasan, sanksi ekonomi, program rudal, serta aktivitas di Selat Hormuz juga masih menjadi persoalan besar. Kondisi tersebut membuat penghentian operasi militer belum tentu menghilangkan akar konflik antara kedua negara. Bahkan apabila perang dinyatakan selesai secara politik, ketegangan dapat kembali meningkat apabila terjadi serangan atau tindakan yang dianggap melanggar kepentingan salah satu pihak.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik karena jalur tersebut memiliki peran strategis terhadap perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu telah memberikan tekanan terhadap harga energi internasional dan meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan. Perkembangan terbaru konflik bahkan kembali mendorong kenaikan harga minyak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru dan Iran memberikan respons militer. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Washington memiliki kepentingan besar untuk mencegah perang berkembang menjadi konflik yang semakin luas. Stabilitas jalur pelayaran juga penting bagi negara-negara Teluk yang perekonomiannya sangat bergantung pada perdagangan energi.
Tekanan terhadap pemerintahan Trump tidak hanya datang dari situasi internasional, tetapi juga dari dalam negeri Amerika Serikat. Konflik berkepanjangan menimbulkan kekhawatiran mengenai biaya operasi militer, penggunaan persenjataan, serta dampaknya terhadap harga energi dan perekonomian masyarakat. Pemerintah harus mempertimbangkan kebutuhan mempertahankan kesiapan militer di kawasan lain ketika puluhan ribu personel dan berbagai aset strategis masih ditempatkan di Timur Tengah. Perpanjangan penugasan juga memberikan tekanan terhadap personel, pemeliharaan kapal, pesawat, dan sistem persenjataan. Faktor-faktor tersebut membuat pilihan untuk mengurangi intensitas perang memiliki pertimbangan strategis yang lebih luas daripada sekadar hubungan Washington dan Teheran.
Meski demikian, keputusan menyatakan perang selesai memiliki risiko politik apabila pertempuran kembali pecah setelah deklarasi tersebut disampaikan. Iran masih memiliki kemampuan rudal dan kekuatan militer yang dapat digunakan untuk membalas serangan Amerika Serikat. Washington karena itu harus memastikan bahwa langkah politik untuk mengakhiri perang tidak dipersepsikan sebagai penurunan kesiapan militernya. Keberadaan puluhan ribu tentara dan armada besar di kawasan dapat dipandang sebagai upaya mempertahankan daya tangkal sekaligus memberikan ruang bagi Trump untuk mengubah pendekatan dari operasi tempur menjadi tekanan ekonomi. Strategi tersebut memungkinkan Amerika Serikat mengurangi keterlibatan langsung tanpa sepenuhnya melepaskan tekanan terhadap Iran.
Bagi negara-negara Timur Tengah, kemungkinan berakhirnya perang dapat membuka peluang meredakan ketegangan yang selama berbulan-bulan meningkatkan risiko konflik regional. Negara-negara Teluk memiliki kepentingan untuk menjaga keamanan wilayah udara, fasilitas energi, pelabuhan, dan jalur perdagangan mereka dari dampak serangan. Konflik yang berkepanjangan juga membuat negara-negara kawasan harus meningkatkan kesiapsiagaan pertahanan sekaligus menghadapi ketidakpastian ekonomi. Karena itu, setiap langkah menuju penghentian pertempuran berpotensi memberikan ruang bagi diplomasi untuk kembali memainkan peran lebih besar. Namun, keberhasilan langkah tersebut tetap membutuhkan komitmen dari Washington dan Teheran untuk menahan tindakan yang dapat memicu eskalasi baru.
Hingga kini, Trump belum mengumumkan keputusan final mengenai kemungkinan deklarasi berakhirnya perang dengan Iran. Pemerintah Amerika Serikat tampaknya masih mempertahankan dua pendekatan sekaligus, yakni tekanan ekonomi yang semakin kuat dan kesiapan militer dalam skala besar di Timur Tengah. Pilihan tersebut memungkinkan Washington mengurangi intensitas operasi tanpa kehilangan kemampuan untuk merespons apabila situasi kembali memburuk. Jika Trump akhirnya menyatakan perang berakhir, perhatian selanjutnya akan tertuju pada respons Iran, masa depan pasukan Amerika Serikat di kawasan, serta kemungkinan dimulainya kembali jalur diplomasi. Perkembangan beberapa waktu ke depan akan menentukan apakah rencana tersebut benar-benar menjadi awal penghentian konflik atau hanya perubahan strategi dalam perseteruan panjang Washington dan Teheran.