Jakarta, 7 September 2026 – Erupsi gunung berapi menjadi salah satu bencana alam yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan berbagai ancaman bagi masyarakat di wilayah terdampak. Material vulkanik seperti abu, batu pijar, awan panas, hingga potensi lahar membuat warga perlu mengikuti arahan keselamatan dari pihak berwenang. Selain melakukan langkah perlindungan secara fisik, umat Islam dapat memperbanyak doa dan zikir untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT. Tidak terdapat doa khusus yang secara eksplisit ditetapkan hanya untuk peristiwa gunung meletus, tetapi terdapat sejumlah doa dalam Al-Qur’an dan hadis yang lazim dibaca ketika menghadapi musibah, ketakutan, atau ancaman bahaya. Doa tersebut menjadi bentuk ikhtiar batin sekaligus pengingat agar seseorang tetap berserah diri kepada Allah SWT. Upaya spiritual tetap perlu berjalan bersama tindakan keselamatan seperti evakuasi dan menjauhi zona berbahaya.
Salah satu bacaan yang dapat diamalkan ketika menghadapi keadaan yang menimbulkan rasa takut adalah kalimat hasbunallahu wa ni’mal wakil. Bacaan ini terdapat dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 173 dan menggambarkan sikap berserah diri serta keyakinan kepada pertolongan Allah SWT. Doa tersebut dapat dibaca berulang ketika seseorang menghadapi situasi sulit, termasuk ketika berada dalam kondisi bencana. Berikut bacaannya:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Latin: Hasbunallahu wa ni’mal wakil.
Artinya: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”
Bacaan lain yang dapat diamalkan adalah doa Nabi Yunus AS ketika berada dalam kesulitan. Doa yang terdapat dalam Surah Al-Anbiya ayat 87 tersebut sering dibaca umat Islam ketika memohon pertolongan dan ampunan kepada Allah SWT. Kalimatnya pendek sehingga relatif mudah diingat dan dapat dibaca ketika seseorang sedang berada dalam perjalanan evakuasi maupun telah berada di tempat yang lebih aman. Berikut bacaannya:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Latin: La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin.
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Umat Islam juga dapat membaca doa memohon keselamatan dan perlindungan dari berbagai keburukan. Salah satu bacaan yang dikenal luas adalah permohonan perlindungan dengan kalimat Bismillahil ladzi la yadhurru ma’asmihi syai’un. Doa ini mengandung permohonan perlindungan kepada Allah dari sesuatu yang dapat mendatangkan bahaya. Dalam hadis, bacaan tersebut dianjurkan dibaca tiga kali pada pagi dan petang. Berikut bacaannya:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Latin: Bismillahil ladzi la yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa la fis sama’i wa huwas sami’ul ‘alim.
Artinya: “Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Ketika menghadapi musibah, umat Islam juga mengenal bacaan istirja’ yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 156. Bacaan ini tidak hanya berkaitan dengan kematian, tetapi merupakan ungkapan yang diajarkan ketika seseorang tertimpa musibah. Kalimat tersebut mengingatkan bahwa manusia dan seluruh kehidupannya merupakan milik Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Berikut bacaannya:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Latin: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
Bacaan istirja’ dapat dilanjutkan dengan doa memohon pahala atas musibah serta penggantian yang lebih baik. Doa tersebut diriwayatkan dalam hadis dan dapat diamalkan ketika seseorang mengalami kehilangan atau dampak berat akibat bencana. Berikut bacaannya:
اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
Latin: Allahumma’jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha.
Artinya: “Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah kepadaku pengganti yang lebih baik daripadanya.”
Selain doa, masyarakat yang menghadapi erupsi perlu tetap mengutamakan langkah keselamatan. Perintah evakuasi dari petugas harus segera diikuti dan masyarakat tidak dianjurkan mendekati kawah maupun memasuki radius bahaya yang telah ditetapkan. Ketika terjadi hujan abu, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi sesuai kondisi dan arahan pemerintah. Masker yang sesuai dapat digunakan untuk mengurangi paparan partikel abu, sedangkan mata dapat dilindungi menggunakan kacamata tertutup apabila harus berada di luar ruangan. Pintu dan jendela rumah dapat ditutup untuk mengurangi masuknya abu selama kondisi memungkinkan untuk tetap berada di dalam bangunan. Warga di sekitar aliran sungai yang berhulu di gunung juga perlu memperhatikan peringatan mengenai potensi lahar, terutama ketika turun hujan.
Membaca doa ketika menghadapi gunung meletus pada dasarnya merupakan bagian dari ikhtiar spiritual, bukan pengganti tindakan penyelamatan. Dalam keadaan darurat, keselamatan diri, keluarga, anak-anak, lansia, dan kelompok rentan harus menjadi perhatian utama. Dokumen penting, obat-obatan, air minum, makanan darurat, pakaian, masker, dan kebutuhan dasar dapat dipersiapkan apabila wilayah tempat tinggal berada dekat gunung api aktif. Informasi mengenai kondisi gunung sebaiknya diperoleh melalui pengumuman resmi pemerintah dan petugas kebencanaan agar masyarakat tidak terpengaruh kabar yang belum terverifikasi. Jalur serta titik evakuasi juga perlu diketahui sebelum kondisi memburuk. Kesiapan semacam ini dapat mempercepat proses penyelamatan apabila sewaktu-waktu status aktivitas vulkanik meningkat.
Musibah juga menjadi momentum untuk memperbanyak istighfar, zikir, salat, dan doa bagi keselamatan masyarakat secara luas. Seseorang dapat berdoa menggunakan bahasa Arab maupun bahasa yang dipahami karena inti doa adalah permohonan yang ditujukan kepada Allah SWT. Masyarakat juga dapat mendoakan petugas penyelamat, tenaga kesehatan, relawan, dan seluruh pihak yang bekerja di daerah terdampak. Solidaritas sosial melalui bantuan kepada pengungsi menjadi bentuk ikhtiar lain yang dapat dilakukan bersama doa. Bantuan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan yang disampaikan petugas di lapangan agar distribusinya efektif. Dengan demikian, menghadapi bencana tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pribadi, tetapi juga kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Doa-doa tersebut dapat diamalkan ketika terjadi erupsi maupun berbagai keadaan sulit lainnya karena pada dasarnya merupakan permohonan perlindungan, pertolongan, dan keteguhan kepada Allah SWT. Namun, masyarakat tetap harus mengikuti perkembangan aktivitas gunung serta instruksi evakuasi dari pihak berwenang. Doa dan tawakal berjalan bersama ikhtiar nyata untuk menghindari bahaya dan melindungi kehidupan. Apabila petugas meminta warga meninggalkan suatu kawasan, proses evakuasi tidak seharusnya ditunda untuk menunggu kondisi terlihat lebih buruk. Mengikuti petunjuk keselamatan merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko akibat erupsi dan material vulkanik. Dalam kondisi bencana, ketenangan, kesiapsiagaan, kepedulian terhadap sesama, serta doa dapat menjadi bagian yang saling melengkapi dalam menghadapi keadaan darurat.